Tuesday, June 9, 2020
Tuesday, June 25, 2019
Mari Dengar Suatu Cerita : Seorang Hamba Allah yang Memfitnah
Assalam.. lama tak jenguk dan update blog ini kan
so sebagai upacara pecah tanah di tengah tahun ini, saya nak share sebuah kisah
yang mungkin anda ada baca, mungkin jugak belum baca.
Semoga bermanfaat untuk kita bersama
KISAH SEORANG HAMBA ALLAH YANG MEMFITNAH HABIB UMAR BIN HAFIDZ HAFIZAHULLAH.*
“Habib... Maafkanlah saya yang telah memfitnah Habib dan ajarkan saya sesuatu yang boleh menghapuskan kesalahan saya ini.”
Aku berusaha menjaga lisanku, tak ingin sedikitpun menyebarkan kebohongan dan menyinggung perasaan Habib.lagi, detik kata hatiku.
Habib Umar tersenyum ..,“Apa kau serius?” katanya.
Aku menganggukkan kepalaku dengan penuh keyakinan “Saya serius, Habib, Saya benar-benar ingin menebus kesalahan saya.”
Habib Umar terdiam beberapa saat. Ia tampak berfikir. Aku sudah membayangkan sebuah doa yang akan diajarkan oleh Habib Umar kepadaku, yang jika aku membacanya beberapa kali maka Allah akan mengampuni dosa-dosaku. Aku juga membayangkan satu perintah atau pekerjaan, atau apa saja yang boleh menebus kesalahan dan menghapuskan dosa-dosaku.
Beberapa detik kemudian, Habib Umar mengucapkan sesuatu yang benar-benar di luar sangkaanku....
“Apakah kamu mempunyai sebuah bulu ayam (pengibas habuk) di rumahmu?”
Aku benar-benar hairan kerana Habib Umar justeru menanyakan sesuatu yang tidak relevan untuk permintaanku tadi.
“Maaf, Habib?” Aku berusaha untuk memahami maksud Habib Umar.
Habib Umar tertawa, seperti Habib Umar yang biasanya. Di hujung tawanya, ia sedikit terbatuk sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, ia menghampiriku,
“Ya, carikan satu bulu ayam yakni pengibas habuk di rumahmu,” katanya.
Nampaknya Habib Umar benar-benar serius dengan permintaannya.
“Ya, saya ada bulu ayam yakni pengibas habuk di rumah, Habib. Apa yang harus saya lakukan dengannya?” aku bertanya minta kepastian.
Habib Umar tersenyum....,“Besok pagi, berjalanlah dari rumahmu ke pondokku,” katanya, “Berjalanlah sambil mencabut sehelai demi sehelai bulu-bulu dari pengibas habuk itu. Setiap kali kamu mencabut sehelai bulu, ingatkan setiap perkataan burukmu tentang aku, lalu jatuhkan di jalanan yang kamu lalui.”
Aku hanya menganggukkan kepala dan aku tak akan membantahnya. Barangkali maksud Habib Umar adalah agar aku merenung semua kesalahan-kesalahanku. Dan dengan menjatuhkan bulu-bulunya satu per satu, maka kesalahan-kesalahan itu akan gugur diterbangkan oleh angin…
“Kau akan belajar sesuatu darinya,” kata Habib Umar Ada senyum yang sedikit memberi keyakinan di wajahku.
Keesokan harinya, aku menemui Habib Umar dengan sebuah pengibas habuk yang sudah tidak memiliki sehelai bulupun pada tangkainya. Aku segera menyerahkan batang pengibas habuk itu pada beliau.
“Ini, Habib..., bulu-bulu dari pengibas habuk ini sudah saya jatuhkan satu per satu sepanjang perjalanan. Saya berjalan lebih dari 5 km dari rumah saya ke pondok ini. Saya mengingati semua perkataan buruk saya tentang Habib.
Saya menghitung betapa luasnya fitnah-fitnah saya tentang Habib yang sudah saya sebarkan kepada begitu banyak orang....... Maafkan saya, Habib. Maafkan saya…”
Habib Umar mengangguk-angguk sambil tersenyum. Ada kehangatan yang aku rasakan dari raut mukanya, lalu dia bersuara......, “Seperti aku katakan kemarin, aku sudah memaafkanmu. Barangkali kamu hanya khilaf dan hanya mengetahui sedikit tentangku. Tetapi kau harus belajar sesuatu…,” katanya.
Aku hanya terdiam mendengar perkataan Habib Umar yang lembut, menyejukkan hatiku. “Kini pulanglah…” kata Habib Umar.
Ketika aku baru saja hendak melangkah pulang sambil mencium tangannya, tetapi Habib Umar melanjutkan kata-katanya.....
"Pulanglah dengan kembali berjalan kaki dan menempuh jalan yang sama dengan saat kamu menuju ke pondokku tadi…”
Aku terkejut mendengarkan permintaan Habib Umar kali ini, apalagi mendengarkan “syarat” berikutnya: “Di sepanjang jalan kepulanganmu, pungutlah kembali bulu-bulu dari pengibas habuk tadi kau cabut satu per satu. Esok hari, laporkan kepadaku berapa banyak bulu yang dapat kamu kumpulkan.”
Aku terdiam. Aku tak mungkin menolak permintaan Habib Umar. “Kamu akan mempelajari sesuatu dari semua ini,” Habib Umar mengakhiri kata-katanya.
Sepanjang perjalanan pulang, aku berusaha menemukan bulu-bulu dari pengibas habuk yang tadi kulepaskan di sepanjang jalan. Hari yang terik. Perjalanan yang melelahkan. Betapa sulit untukku menemukan bulu-bulu itu. Ia tentu saja telah ditiup angin, atau menempel di beberapa kenderaan yang sedang menuju kota yang jauh, atau disapu ke mana saja tempat yang kini tak mungkin aku ketahui.
Tapi aku harus menemukan bulu-bulu tersebut..., Aku harus terus mencari di setiap sudut jalanan, lorong-lorong sempit, ke mana saja!
Aku terus berjalan... Setelah berjam-jam, aku berdiri di depan rumahku dengan pakaian yang dibasahi keringat. Nafasku tercunga-cungap..., kerongkongku kering.
Di tanganku, kugenggam lima helai bulu pengibas habuk yang berhasil kutemukan di sepanjang perjalanan.
Hari sudah menjelang petang. Dari ratusan bulu ayam yang ku cabut dan ku jatuhkan dalam perjalanan ketika pergi bertemu Habib, hanya lima helai yang berhasil kutemukan dan kupungut sepangjang perjalanan pulang. Ya, hanya lima helai. Lima helai...,.
Hari berikutnya aku menemui Habib Umar dengan wajah yang murung. Aku menyerahkan lima helai bulu ayam yang telah ku kutip itu pada Habib Umar : "Ini, Habib..., hanya ini saja yang berhasil saya temukan.” Aku membuka genggaman tanganku dan menyerahnnya pada Habib Umar. Habib Umar tersenyum.....,"Kini kamu telah belajar sesuatu,” katanya.
Aku mengerutkan dahiku, ingin tahu....“Apa yang telah aku pelajari, Habib?” Aku benar-benar tak mengerti.
“Tentang fitnah-fitnah itu,” jawab Habib Umar.
Tiba-tiba aku tersentak. Dadaku berdebar. Kepalaku mulai berkeringat.
“Bulu-bulu ayam yang kamu cabut dan kamu jatuhkan sepanjang perjalanan adalah fitnah-fitnah yang kamu sebarkan. Walaupun kamu benar-benar menyesali di atas perbuatanmu dan berusaha memperbaikinya, fitnah-fitnah itu telah menjadi bulu-bulu yang beterbangan entah kemana. Bulu-bulu itu adalah kata-katamu.
Ia telah dibawa angin terbang ke mana saja, ke berbagai tempat yang tak mungkin dapat kamu duga...,, ke berbagai wilayah atau negara yang tak mungkin dapat kamu hitung!”
Tiba-tiba aku menggigil mendengarkan kata-kata Habib Umar. Seolah-olah ada satu hentakan pesawat yang paling dahsyat di dalam kepalaku. Seolah-olah ada tikaman mata pisau yang menghujam jantungku.
Aku ingin menangis sekeras-kerasnya. Aku ingin mencabut lidahku sendiri.
“Bayangkan salah satu dari fitnah-fitnah itu suatu saat kembali pada dirimu sendiri… Barangkali kamu akan berusaha meluruskannya, karena kamu benar-benar merasa bersalah telah menyakiti orang lain dengan kata-katamu itu. Barangkali kamu tak ingin mendengarnya lagi. Tetapi kamu tak dapat menghentikan semua itu! Kata-katamu yang telah terlanjur tersebar dan terus disebarkan di luar kawalanmu, tak dapat kamu bungkus lagi dalam sebuah kotak besi untuk kamu kubur dalam-dalam sehingga tak ada orang lain lagi yang mendengarnya. Angin waktu telah mengabdikannya."
“Fitnah-fitnah itu telah menjadi dosa yang terus beranak-pinak tak ada penghujungnya. Agama menyebutnya sebagai dosa jariyah (dosa yang berjalan atau tersebar terus menerus). Dosa yang terus berjalan di luar kawalan pelakunya....,
Maka tentang fitnah-fitnah itu, meskipun aku atau sesiapapun saja yang kamu fitnah telah memaafkanmu sepenuh hati, fitnah-fitnah itu terus mengalir hingga kau tak dapat membayangkan bila ianya akan berakhir.
Bahkan meskipun kau telah meninggal dunia, fitnah-fitnah itu terus hidup karena angin waktu telah membuatnya abadi.
Maka kamu tak dapat menghitung lagi berapa banyak fitnah-fitnah itu telah memberatkan timbangan keburukanmu kelak.”
Tangisku benar-benar pecah. Aku tersungkur di lantai.
“Astagfirulloh hal-adzhim… Astagfirullohal-adzhim… Astagfirulloh hal-adzhim…”
Aku hanya mampu terus mengulangi istighfar. Dadaku gemuruh. Air mata menderas dari kedua hujung mataku.
“Ajarkanlah saya apa saja untuk membunuh fitnah-fitnah itu, Habib..... Ajaranlah saya! Ajarkanlah saya! Astagfirulloohal-adzhim…” Aku terus menangis menyesali apa yang telah aku perbuat.
Habib Umar tertunduk sambil menitiskan air matanya. “Aku telah memaafkanmu setulus hatiku...., wahai anakku,” katanya,
“Kini, aku hanya mampu berdoa agar Allah mengampunimu, mengampuni kita semua. Kita harus percaya bahawa Allah, dengan kasih sayangnya, adalah Zat yang Maha terus menerus menerima taubat manusia… Innallooha tawwaabur-rahiim...”
Aku seperti disambar halilintar jutaan megawatt yang menggoncangkan batinku!
Aku ingin mengucapkan sejuta atau sebanyak-banyaknya istighfar untuk semua yang sudah kulakukan!
Aku ingin membacakan doa apa saja untuk menghentikan fitnah-fitnah itu!
“Kini aku telah belajar sesuatu,”
Demikianlah sahabat dan saudaraku. Itulah sebab kenapa, fitnah itu "KEJAM". Lebih kejam dari pada pembunuhan.
Bayangkan berapa juta wall di media social yang kita penuhi kalau satu kali saja posting fitnah terhadap seseorang dan itu akan menetap abadi sepanjang masa apalagi kalau di share. Maka setiap yang ingin kita posting hendaklah di telaah dan difikirkan dulu fitnah ataupun bukan?
Kiriman hamba Allah
Wallahua`lam
Wednesday, September 19, 2018
Novel : Kemelut Kasih - Part 33
Bab 33
“H
|
oney.. ?? Where have
you been.. ?? I called you so many times but you never pick up. Even
return my call..? If you hear my
message, just give me a call… urgent!” Dalam kegeraman Harith
meninggalkan voice message dalam telefon bimbit Suraya. Dia menghela
nafas panjang. Kebelakangan ini semakin jarang mereka berjumpa. Masing-masing
sibuk dengan hal masing-masing.
Lagipun dia sudah bosan diasak dengan pertanyaan dari kedua ibu bapanya
dengan pengakhiran hubungannya dengan Suraya. Tiga tahun berkawan rapat, namun
masih belum ada apa-apa ikatan. Mummy dan Daddynya sudah tidak
sabar inginkan cucu. Sementelah lagi dialah merupakan satu-satunya pengarang
hati dan jantung Dato’ Mansur dan Datin Maznah. Kedua orang tuanya sudah
berhajat untuk masuk meminang anak dara kesayangan Dato’ Zaharuddin dan Datin
Farina itu. Jadi, by hook or by crook, dia cuma perlu mendapatkan
persetujuan dari Suraya sahaja.
Namun kebelakangan ini semakin hari, Suraya kelihatan semakin jauh
darinya. Seminggu sekali nak jumpa pun agak payah. Jikalau dahulu, setiap malam
mereka berdating. Itu belum lagi dikira dengan panggilannya. Dalam sepuluh kali
panggilannya kepada anak gadis itu, satu pun susah mahu berangkat. Paling tidak
dia meninggalkan mesej pendek (SMS) atau pun voice message. Hanya
sesekali gadis itu membalasnya. Sibuk benarkah dia mutakhir ini..? Soalnya
sendiri. Kemudian Harith menggaru-garu kepalanya yang tidak gatal.
Harith kemudiannya berlalu menuju ke tandas di kompleks membeli belah di
One Utama ini menunaikan hajat sebelum kembali menyertai tiga orang lagi
rakannya bermain boling.
“Harith Azhar… your turn….” Jerit rakannya Munsyi dari jarak 50
meter.
“Lamanya engkau pi mens… Berak
batu ko apo..?” soal Bala pula. Mereka semua gelak serentak menambahkan
lagi kebisingan suasana di Pusat Boling Utama itu.
Tanpa membalas Harith terus mengambil bola seberat 13 kg itu dan membuat
balingannya. Strike!
“Wow… pergi bertapa rupanya… Terus strike ttuu…” Bala menambah
lagi. Mereka saling bersorak dan memberikan tepukan. Bala merupakan Pengurus
Pemasaran di salah sebuah syarikat pengiklanan terkemuka di Kuala Lumpur,
sementara Munsyi pula adalah Eksekutif Kanan Bahagian Perakaunan dan
Pentadbiran di sebuah syarikat semi government di Kelana Jaya.
Kedua-duanya merupakan bekas rakan-rakannya sewaktu belajar di Wales
University dahulu.
“Well… tengoklah.. siapa orangnya..” Harith sengaja membalas
gurauan mereka. Dia mahu melupakan sebentar masalahnya bersama Suraya.
Walaupun dia sibuk menolong Daddynya mengendalikan perniagaan
perkapalannya, namun sesekali dia tidak lupa beriadah bersama rakan-rakannya.
Kerap kali juga dia ke padang golf
bersama atau tanpa Daddynya demi melayani pelanggan-pelanggan dan
prospek perniagaan mereka. Di dalam kesibukan tugas itu, dia juga tidak lupa melayani karenah anak bongsu
Dato’ Zaharuddin. Seringkali mereka keluar menonton wayang mahupun dinner
bersama. Sehari tidak bersua muka tidak sah dirasakan. Namun itu episod cerita
dahulu. Sekarang.. entahlah..
“Your turn…” sekali lagi gilirannya. Munsyi Ikram menepuk bahunya.
Dia bangun dan membuat balingan ke sekian kalinya. Balingan pertama, tujuh pin
yang jatuh. Dia kemudian membuat balingan kali kedua. Ketiga-tiga baki pin yang
ada jatuh kesemuanya. Spare!
Mereka sekali lagi menjerit keriangan dan berbalas tepukan dan tepuk
lima. Sekarang giliran Munsyi untuk membuat balingan.
“Kau memang terror la.. walau dah lama kita tak main ni kan..” seorang lagi
rakan mereka, Abdul Rahim yang mereka lebih kenali sebagai Abul bersuara. Tadi
dia sibuk melayan dua awek yang dibawanya. Abul sedari tadi asyik dihimpit dua
gadis yang pada perkiraan Harith dalam lingkungan lewat belasan tahun. Mungkin
juga masih dalam alam persekolahan. Namun dengan kuasa mekap yang bersepah di
pasaran, mereka boleh mengubah karektor mereka menjadi lebih dewasa. Di tambah
pula dengan baju spaghetti dan jeans singkat paras lutut. Cukup seksi.
“Rith, mari aku kenalkan engkau pada awek-awek aku ni.. ” Abul mengajak Harith menghampiri kedua aweknya.
“Harith.. kenalkan, ini Yanti… dan yang sorang ni Murni…” perkenal Abul
kepada ketiga-tiga rakannya itu. Murni tersenyum menggoda. Yanti pula
menghadiahi senyuman comel.
“Panggil Yant je.. ” Yanti menghulurkan tangan untuk bersalam. Harith
menyambut dan mengangguk.
“I pulak you panggil honey pun boleh…” Murni bersuara
menggoda. Kemudian dia tergelak. Abul mendehem. Harith hanya tersengih. Dia sebetulnya sudah biasa
melayan perangai perempuan sebegini. Malahan di pejabatnya, ada juga seorang
dua yang cuba menarik perhatiannya. Pelbagai cara telah mereka lakukan untuk
menarik perhatiannya. Sesekali dia melayan juga. Namun banyak kali dia biarkan
sahaja. Buat derk bak kata orang masa kini. Buat bodo bak kata bahasa mat-mat
rock.
“Weyy… nko punya turn la… Asyik kena panggillll je..” jerit Bala sambil
membebel. Harith ketawa dan berlari membuat balingannya yang kesembilan. Satu
balingan lagi habislah game pertama mereka. Sekali balingan, again, Strike!!
“Engkau ni memang la.. tangan berpuaka betul..” suara Munsyi. Jeles juga
sebenarnya. Sebab banyak balingannya hanya berakhir di longkang sahaja. Harith
tergelak kasar.
“Aku tau la.. sebab nkau punya balingan asyik masuk longkang je kan… Tengok
gaya dah ada… Balingan bola pulak tu berputar… macam sommersault.. tapi
sayang.. berakhir di longkang… kah kah kah…” Gelak Bala dan kemudian
disahut dengan gelakan Abul, Harith dan kedua awek Abul. Munsyi bengang… Namun
akhirnya dia turut tergelak sama.
“Poyoo… !! Dah la… pergi buat balingan nkau pulak nun..” Munsyi
menolak bahu Bala. Pemuda berusia 28 tahun, dan sudah bertunang itu boleh tahan
hensemnya. Tunangannya, seorang guru, mengajar di negeri kelahirannya, Pulau
Pinang. Dengar cerita pilihan orang tua. Asalkan mereka bahagia sudah….
“Sue mana Rith.. dah lama tak nampak..? ” Soalan Munsyi mengingatkan
kembali ingatannya kepada Suraya.
“Ntah… busy agaknya…” Dia tunduk membetulkan tali kasutnya. Malas
bersoal jawab lebih panjang pasal itu.
“Hai.. pasal awek sendiri pun ada agak-agak ke..?” Munsyi masih bersoal.
“Eh.. apa kata kau ajak dia, kita pi dance malam ni kat Bangsar..? Dah
lama rasanya aku tak bersosial la….” Munsyi menyambung lagi. “Cuci mata beb..”
dia ketawa polos.
“Tengoklah..” Harith malas memanjangkan topik. “Tapi kawan, ingat sikit
tunang engkau kat kampong nun…” Harith pula membidas Musnyi sekaligus
mengenakannya dalam baik.
“Dio dokek sano tak tau.. ekau jangan memandai nak buko rahsio den
pulak” Mamat Penang itu juga berslanga Nogori pulak.
“Eleh, cam la haku kenai tunang dia..” Harith membalas.
Bala datang setelah habis balingannya. Kemudian Harith bangun untuk
membuat balingan kesepuluhnya. Balingan pertama Strike, kemudian dia membuat
dua balingan lagi. Spare. Markah keseluruhannya pusingan pertama ini adalah 178
mata. Boleh tahan. Bala di tempat kedua dengan 135 mata sementara Munsyi di
tangga ketiga dengan 99 mata sahaja. Seterusnya mereka meneruskan sekali lagi
permainan di pusingan yang kedua. Kemudian mereka membayar bil dan keluar mengisi
perut yang sudah menyanyi keroncong sedari tadi.
S
|
uraya memerhati
telefon bimbitnya. 5 missed called. Semuanya dari Harith. Dia memerhati
terus skrin telefonnya. Fikirannya sudah telus entah ke mana.
“Sue.. Sue…” panggilan Shahrul mengembalikan dia ke alam nyata. Suraya
berpaling memandang manja ke arah Shahrul. Puas dipujuknya Shahrul untuk keluar
menemaninya. Bermacam-macam alasan juga diberikan. Akhirnya alasan berkaitan
projek usahasama mega syarikat mereka juga yang terpaksa digunakannya. Dengan
konon arahan perlu diselesaikan kadar segera. Akhirnya di hujung minggu itu
Shahrul sudi keluar dengannya, dan terpaksa membiarkan isterinya keluar membeli
belah seorang diri.
“Kenapa dengan you ni Sue..?” soal Shahrul cemas. Di lihatnya fikiran
Suraya tidak berada di situ.
“I pening sikit la..” manja Suraya bersuara. Dia memicit-micit dahinya sedikit. Sebenarnya
beralasan. Tangannya yang memegang sebuah file dan tas tangannya
diserahkan kepada Shahrul. Dia duduk sebentar di kerusi panjang di kompleks
membeli belah di One Utama itu. Shahrul turut duduk. Kesian dia melihat mata
Suraya yang terpejam celik itu. Akhirnya dia menawarkan diri untuk turut
menolong memicit kepala Suraya. Yang tanpa dia sedari, dari satu sudut
terlindung, sebuah kamera sedang merakam aksi itu. Dari sudut yang paling baik,
mereka kelihatan amat mesra berdua. Beberapa aksi lagi di rakam oleh kameraman
yang tidak dikenali itu.
“You okay..?? Would you like to drink sumethin’.. ?”
penuh prihatin Shahrul menyoal. Tangannya masih ligat memicit-micit dahi
Suraya.
“It’s okay… sekejap lagi.. Kepala I masih pusing..” jawab Suraya lagi.
Nafasnya dihela kepenatan. Yang sebenarnya, dia amat ingin merasakan sentuhan
tangan hangat bekas kekasihnya itu. Meskipun sudah berapa ratus kali dia ingin lupakan. Namun
gagal. Kenangan cinta pertama tetap sukar dilupakan. Dia sungguh kecewa, begitu
cepat Shahrul melupakannya. Dapat dirasakan, Shahrul hidup bahagia bersama si
perampas itu. Tambahan, bila dia sendiri bersua dengan isteri bekas teman
lelakinya pada suatu hari yang penuh kebetulan dahulu. Cantik, anggun dan penuh
gaya kelembutan seorang wanita yang penuh karisma. Sesungguhnya dia jeles.
Saat itu, dalam diam dia berazam untuk merampas Shahrul kembali. Atau
paling tidak pun memberi sedikit gangguan pada rumahtangga mereka agar merasa
tergoyah. Dia akan membuktikan sisa cinta dari Shahrul untuknya masih
ada !
Akhirnya dia membuka mata dan memegang manja tangan Shahrul. Diusapnya
manja. Shahrul terkesima dan terpaku dengan reaksi Suraya. Dia bingkas bangun. Terjatuh
tas tangan dan file Suraya yang berada di ribaanya tadi. Dia tunduk
memungut kembali barang-barang itu. Wajahnya berada sangat dekat dengan kaki
panjang Suraya yang berskirt pendek paras paha itu. Sekali lagi aksi itu
dirakam dari jauh. Dia mendongak memandang Suraya yang sedikit menunduk mahu
membantunya. Again, aksinya di rakam. Dalam gambar suasana itu amat perfect.
Kelihatan penuh kemesraan.
“I’m sorry Shah…” Suraya cuba menjelaskan. Penuh kepuraan.
Padahal dia sengaja melakukannya. “Jom temankan I pergi minum.. I haus..”
Lembut penuh menggoda dia bersuara. Tapi dipura-purakan agar nampak tidak sihat
di pandangan Shahrul. Dia mahu meraih simpati Shahrul, dan sekaligus cuba
menjinakkan kembali jejaka yang pernah ditambat hatinya suatu ketika dahulu.
Dia nekad. Walau apapun yang terjadi!
Dia menarik tangan Shahrul mengikut jejak langkahnya. Shahrul merasa
tidak selesa. Dengan perlahan dia melepaskan genggaman tangan Suraya, namun
tetap mengekorinya. Dia memerhati lenggok Suraya dari belakang. Fikirannya
melayan mengingati Charina. Apalah yang dia sedang buat sekarang ni di rumah.
Teringat peristiwa pagi tadi
bagaimana setelah Suraya menelefonnya untuk berjumpa. Puas dia mencari helah
namun akhirnya Suraya berjaya jua. Dia terpaksa memberitahu Charina kerana
mereka sudah berjanji untuk keluar membeli stok barangan rumah yang hampir
habis di pasaraya yang berdekatan. Teringat bagaimana wajah Charina yang muram,
namun tidak banyak karenah. Hanya mengangguk dan diam, seolah berjauh hati. Sehinggalah
saat dia keluar tadi, mood isterinya masih tidak baik.
Segera dia mengeluarkan telefon bimbitnya dan menelefon isterinya.
Talian di sebelah sana diangkat pada deringan yang kelima.
“Assalamualaikum Sayang.. Apa khabar..?” Shahrul memulakan bicara.
Langkahnya tetap mengekori Suraya. Entah ke arah mana Suraya menghala. Dia
hanya mengikut. Sesekali Suraya berpaling ke belakang melihatnya.
Shahrul menanyakan aktiviti Charina. Setelah hampir sepuluh minit
bercakap, hatinya sudah berasa lega. Angin Charina sudah ok sedikit.
Sekurang-kurangnya dia sudi menjawab panggilan dari suaminya sudah mencukupi
buat Shahrul. Namun perasaan bersalahnya tetap bersarang.
Kini Charina keluar berbelanja di
Carrefour Subang Jaya untuk membeli
kelengkapan dapur dan rumah yang sudah habis berseorangan. Kesian isterinya.
Perlu melakukannya sendirian. Dia berjanji pada dirinya untuk memujuk isterinya selepas itu.
Suraya yang berjalan di hadapan
berhenti untuk menyaingi langkahnya. Setelah berjalan seiring, Suraya memegang
lengannya manja. Kepalanya dilentukkan ke bahu Shahrul. Shahrul agak
terperanjat. Segera dia cuba melepaskan diri, namun tangan Suraya erat
memegangnya. Seolah sudah menjangka reaksinya itu.
“Sue.. please…” akhirnya
dia bersuara juga. Perlahan namun agak keras. Tangannya masih cuba
melepaskan genggaman Suraya.
“You ni tak romantiklah… tak macam dulu…” Suraya menarik muka.
Mulutnya dimuncungkan. Beberapa orang yang perasan akan adegan itu hanya
memandang mereka. Shahrul merasa agak malu.
Sudahlah hari minggu, orang sudah semestinya ramai.
Suraya…! Dia menjerit di dalam hati. Kesal, bengang semua bercampur
aduk. Dia berjalan pantas menuju ke arahnya sendiri. Suraya mengejar dari
belakang.
“Shah.. you nak pergi mana tu..?” Suraya menjeritkan suara melawan bunyi bising dari sekeliling. Terkedek-kedek
dia berlari dengan kasut tumit tingginya mengikut arah Shahrul yang nampaknya
sudah menghala ke arah elevator yang mahu menuju ke ruang parkir kereta.
Shahrul menekan butang naik ke atas.
“Shah..!” Akhirnya dia berjaya menghambat jejak Shahrul.
“I’m leaving.. takde mood nak bincang.. Kita discuss next time..” pendek dan tegas Shahrul
bersuara. Kebetulan lif tiba dan pintunya terbuka. Shahrul terus memboloskan
diri ke dalam lif yang sudah pun ada beberapa orang di dalamnya. Suraya hanya
memerhati dengan penuh kesal dan bengang. Dalam jangka masa beberapa saat
sebelum pintu lif tertutup, mata mereka saling bersabung pandang. Begitu jua
dengan beberapa penumpang lif yang lain semua memerhatikan Suraya yang berada
di luar. Akhirnya pintu lif tertutup dan menghala ke atas.
Suraya mendengus.
Shahruuullllllllllll….!! Suraya menjerit di dalam hati.
Kau belum tau siapa aku yang sebenarnya… Suatu hari nanti kau akan tau
juga.. Aku yakin kau akan tunduk di kakiku ini. Kemudian dia tersenyum megah
dan pantas berpaling menuju ke arahnya sendiri.
Thursday, September 13, 2018
Novel : Kemelut Kasih - Part 32
Bab 32
“A
|
mboi.. bukan main
mesra lagi abang dengan dia tadi yer….” Charina sengaja mengusik, namun
sebenarnya meluahkan perasaan cemburunya dengan cara paling berhemah yang dia
rasakan.
“Abang
berdua sahaja ke berbincang tadi.. Nobody else?” Soalnya lagi
ingin tahu. Menanyakan kembali soalan yang berlegar sepanjang hari petangnya
tadi. Tangannya ligat menyikat rambutnya yang ikal lurus melepasi bahu.
Pandangan matanya memerhati susuk badan tegap suaminya yang baru keluar dari
tandas di sudut bilik. Diperhatikan suaminya berjalan menghala ke arahnya.
“Kenapa… Sayang jeles ye..?” balas
suaminya pula, membalas gurauannya. Dia menghadiahi satu kucupan di dahi
isterinya dan mengelus lembut bahu isterinya yang terdedah. Pijama satin ungu
lembut terletak indah di badan langsing isterinya. Kemudian dia mengucup bibir
Charina lembut, sebentar. Kemudiannya dia memerhati wajah ayu isterinya dari
pantulan cermin lemari di depannya. Mereka saling berbalas pandang.
“Abang… I’m serious…” Charina
bersuara mematikan tindakan romantik Shahrul. “Sayang tanya ni..” suara Charina
mula mahu merajuk. Mukanya sengaja dicemekkan. Tangannya meletakkan sikat di
atas almari solek, dan kemudian dia mencapai pula minyak wangi dan menyemburnya
sedikit di leher dan sedikit di pergelangan tangannya. Kemudian dia bangun dari bangku menuju ke
katil. Shahrul mengekori langkahnya rapat.
“Siapa yek sorang lelaki yang sama
dengan Sayang tadi..? Abang rasa macam pernah jumpa…. Looks familiar
la..” Shahrul pula menyuarakan isi hatinya yang agak tertanya-tanya juga sedari
tadi. Dia kemudian duduk betul-betul di sebelah isterinya. Boleh menghidu bau
haruman segar dari badan isterinya yang betul-betul menaikkan nafsunya. Charina
berpaling memandang suaminya yang amat rapat, menyebabkan dia sedikit
mendongak.
“Yang mana tu, bang..?? Shariman..? You
dah kenalkan.. Erm… or En. Fauzi..” dia meneka. Sengaja tidak menyebut nama Faizul
terlebih dahulu. “En. Fauzi tu one of a manager dekat Syarikat Megah yang Sayang
selalu cakapkan tu… The one who work very close to us. Banyak
maklumat yang kita perlu ambil dari dia. Maklum la.. Pengurus Pentadbiran dan
Sumber Manusia la katakan… And, yes.. another guy is Faizul… dia pun work very close to both of us…
Abang tau kan.. saya dan Shariman yang handle this company account….”
Begitu panjang lebar Charina menerangkan.
Tanpa dia sedari wajah Shahrul sudah
berada amat rapat di wajahnya. Dan kemudian sekali lagi bibirnya dikucup lama
oleh suaminya. Badannya direbahkan di katil. Charina terperanjat. So sudden.
Serangan yang tiba-tiba, sedangkan dia asyik bercakap.
“Aa.. abang…” Charina tercungap. Dia
mahu bingkas. Namun dia terpaksa melayan suaminya terlebih dahulu. Sudah
menjadi tanggungjawabnya, dia meladeni kehendak suaminya. Setelah puas
menggomolnya, Shahrul berbaring keletihan di sebelah Charina. Mereka sama-sama
keletihan.
Charina mencapai lengan suaminya dan
meletakkan kepalanya di atas lengan suaminya sambil cuba tidur dan memejamkan
mata melayan kantuk.
“So.. that guy name is Faizul
ya, Sayang..” tiba-tiba Shahrul bersuara memecahkan keheningan pagi. Jam di
dinding sudah menunjukkan pukul 2 pagi. Ingat-ingat lupa dia mengingatkan wajah
jejaka yang ditemuinya siang tadi, kemudian cuba dibandingkan wajah jejaka yang
pernah beberapa kali dia temui sewaktu mereka masih di kampus dahulu.
“Apa Bang..?? Faizul..??
Hmm….” Suara Charina yang sudah hampir terlena. Sayup-sayup dia mendengar suara
Shahrul. Kemudiannya desiran nafas halus memberitahu dia sudahpun terlena.
Shahrul memandang wajah ayu isterinya di sisi. Ada persoalan yang masih
belum terjawab, namun dia tidak mahu mengejutkan isterinya. Lagipun esok masih
ada. Akhirnya dia turut memejamkan mata setelah lampu di sisi tepi katil di
matikan.
“Dah lama Hairi ngan Erin tak
balik kan bang.. Last diorang balik rasanya sewaktu majlis kahwin
Chairul dulu… apakata kita yang pergi jenguk anak menantu kita di KL nun,
abang..??” soal Puan Maria kepada suaminya. Dia memandang suaminya yang sedang
enak membaca surat khabar di kerusi yang diletakkan elok bersama sebuah meja di
sudut laman di tepi kolam kecil yang dia dan suaminya rekabentuk sendiri.
Tangannya membelek-belek daun bunga
yang sudah nampak kekuningan. Di capai dan dibuangnya untuk mengelakkan dari
terjangkit kepada daun-daun yang lain. Dia membelek lagi pohon keladi besar
yang di tanamnya betul-betul di kiri kanan kolam ikan mereka, menimbulkan
suasana malar hijau yang nyaman dan segar.
“Abang.. awak dengar tak apa yang
saya cakapkan ni..??” Puan Maria bersuara lagi setelah persoalannya tadi tidak
mendapat sebarang jawapan dari suaminya. Dia berpaling ke arah suaminya yang
hilang dalam dunianya sendiri.
“Abang..!” suaranya sedikit kuat.
“Ya Puan Maria.. ada apa …?”
akhirnya Bekas Penolong Pesuruhjaya Polis Johor itu menyahut juga akhirnya. Dia
memandang ke arah isterinya dari sebalik akhbar The Star yang sedang
asyik dibeleknya tadi. Mukanya penuh tanda ingin tahu. Tadi dia sedang asyik membaca
berita perihal kematian seorang suri rumah yang sedang hamil 3 bulan dibunuh.
Kesian… baru 27 tahun, masih muda sudahpun meninggal. Itulah ajal manusia yang
sudah terjanji di loh mahfuz lagi. Tambahan pula anak sulung si mati berada di
sisi ibunya yang mati di bunuh. Pastinya dia sempat melihat kejadian itu dan
pasti ia menjadi trauma kepada kanak-kanak berkenaan selagi hayat.
“Abang ni.. asyiiiiikkkk dengan paper
awak tu… soalan saya, langsung tak dijawabnya..” nada suara Puan Maria sudah
merajuk. Namun tangannya masih tangkas memegang wayar dan menyirami pokok-pokok
bunganya yang subur di kelilingi taman mini mereka.
“Awak
ni… sikit-sikit dah nak merajuk.. tak pernah nak berubah dari zaman muda awak
tu…” balas Tuan Hj. Ab. Rahman pula.
“Ni, awak tengok ni.. muda-muda lagi dah meninggal.. dah la tu, dibunuh di sisi anak dia
lagi tu… Baru setahun anaknya… Apa la nak jadi dengan dunia sekarang ni…
jenayah sana sini…” keluh Tuan Hj. Ab. Rahman sambil menunjukkan coretan berita
yang di bacanya tadi kepada isterinya.
“Apa
dia bang..?” terperanjat Puan Maria mendengar ulasan dari suaminya itu. Dia
lantas meletakkan wayar getah dan berjalan menutupi pili air sebelum berjalan
menuju ke meja di tempat suaminya.
“Ini
hah.. berita ni….” Sambung Tuan Hj. Ab Rahman lagi mengulas kembali berita yang
di bacanya tadi kepada isterinya. Akhbar itu diunjukkan kepada isterinya. Puan
Maria memerhati sepintas lalu.
“Innalilahi
wainnailaihirajiunn.. Kesiannya…” ulas Puan Maria akhirnya. Naluri keibuan
dan kemanusiaan membuak-buak di dadanya. Dia mencela-cela si pembunuh yang
masih belum dikenalpasti lagi.
“Sudah-sudah
la tu… orang tu dah meninggal.. sedekahkan lah Al-Fatihah, takde gunanya kita
dok kutuk si pembunuh tu… nanti-nanti dia dapat la bahagiannya nanti..” Tuan
Hj. Ab. Rahman menenangkan isterinya yang beremosi.
“Awak
mana tau, awak lelaki.. Saya ni perempuan… Saya tau la apa perasaannya.. Perempuan
ni mempunyai perasaan yang halus tau…” Puan Maria tidak mahu mengalah.
Tuan
Hj. Ab. Rahman menggelengkan kepalanya perlahan. “Habis kerana saya ni lelaki,
jadi saya tak ada perasaan la maksud awak yea.. ?” dia
menggeleng-gelengkan kepalanya lagi. Maria… Maria… dah tua pun tak pernah nak
berubah… Anak dah lima makin menjadi perangainya… Hendak bermanja agaknya.. Kemudian
Tuan Haji Ab. Rahman tergelak sendiri.
Puan
Maria kehairanan. “Apa yang lucu sangat tu, Bang.. ?” berkerut
dahinya.
“Tak
ada apalah… Apa yang awak cakapkan awal tadi tu, Puan Maria.. ? Khusyuk
saya membaca sampai tak terdengar apa yang awak bebelkan tadi..” pantas Tuan
Haji Ab. Rahman mengalih tajuk perbualan.
“Abang…
tadi, saya cakap kat abang… dah lama anak menantu kita tak pulang kan.. apakata
kalau kita yang pergi jenguk diaorang kat sana.. ? Agaknya mereka busy
sangat.. tak sempat nak balik..” cadang Puan Maria sambil menuang air teh
ke dalam cawan setelah pembantunya datang menghantar sebentar tadi. Dia menghulurkan kepada suaminya. Sepiring goreng
pisang dan kuih ketayap turut disediakan oleh pembantu mereka.
“Hmm…. Bagus juga tu.. bolehlah
abang ambik kesempatan main golf kat KL nun nanti dengan kawan-kawan Abang..
Dah lama tak jumpa mereka..” Tuan Hj. Ab. Rahman mencapai sepotong goreng
pisang yang masih panas dan menelannya perlahan. Kepalanya di angguk-anggukkan
perlahan.
“Saya pulak bolehlah shopping
puas-puas kat sana nanti..” sambung Puan Maria pula. “Dah lama rasanya saya tak
membeli barangan kemas ni.. boleh la saya jalan-jalan dengan menantu awak ke Habib
Jewels nanti..” bersemangat Puan Maria mengatur plannya pula.
“Hm…
orang perempuan ni.. tak habis dengan barangan kemas mereka walaupun dah
bergayut dekat badan mereka tu… Awak jangan jadi macam ‘pokok krismas pulak’….”
Usik Tuan Hj. Ab. Rahman lagi menyakat isterinya.
“Abang ni…. Badan saya ni masih
cantik lagi, ok… masih langsing… walau anak sudah lima…” Puan Maria bersuara
membalas usikan suaminya.
“Sebab tu la saya sayangkan awak..” perlahan
Tuan Hj. Ab. Rahman bersuara. Matanya dikenyitkan. Masih dalam mood menyakat
isterinya.
“Abang ni…” Puan Maria mencubit
manja suaminya.
“Adoii….” Tuan
Hj. Rahman menyeringai dan ketawa akhirnya.
“Haaaaa…
Mama ngan Abah sedang bergurau senda berduaan di sini… Aaayookk.. !!”
tiba-tiba Hazrul muncul mengganggu suasana romantis kedua ibu bapanya. Dia
tersengih dan melompat-lompat nakal.
“Abaaangggg….
Kakakkkkk… Mari la tengok mama ngan abah ni….” Anak bongsu mereka yang kini
sudah berusia hampir sepuluh tahun menjerit memanggil kakak dan abangnya untuk
turut serta memerhatikan keintiman kedua ibu bapa mereka.
“Adik..
buat apa menjerit-jerit ni… Pergi panggil abang Hafizi ngan Kak Hani kamu nun..
Ajak mereka makan sama.. Jangan lupa suruh Mak Mah hantarkan sikit lagi air
dan kuih kat depan ni.. Ok sayang.. ”
Hazrul
terus melompat dan melangkah masuk mengikuti suruhan Mamanya.
Tuan
Haji Abdul Rahman dan Puan Maria berpandangan, kemudian tersenyum dan
menggeleng-gelengkan kepala mereka melihat telatah si manja mereka itu.
Kebetulan cuti sekolah, bolehlah mereka rancangkan percutian mereka ke Kuala
Lumpur nanti sambil menjenguk Hairi dan Charina
serta Hairul yang kini menyambung pelajaran dalam bidang Undang-Undang di
Universiti Malaya.
Mari Dengar Satu Cerita - Kisah sebiji tembikai
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
~Lihatlah sekitar alam..
Dunia luas terbentang..~
KISAH TEMBIKAI MANIS
Seorang lelaki soleh pulang ke rumah dengan membawa sebiji tembikai (ada orang panggil timun cina ). Dia membeli buah itu dari sebuah pasar. Isterinya membelah tembikai itu dan merasanya - "tawar". Lalu isterinya terus-terusan merungut. Melihat isterinya yg merungut itu, suami berkata:
"Saya membeli tembikai itu dari pasar"
Isteri: "Saya tau"
Suami: "Pada pendapat awak, semasa saya membeli tembikai tadi, saya nak yang manis atau yang tawar?"
Isteri: " Tentulah yang manis"
Suami:" Ketika penjual sedang menjual tadi, agaknya mereka nak menjual yang manis atau yang tawar?"
Isteri: "Tentulah mereka ingin menjual yg manis"
Suami terus lagi bertanya: " Ketika peraih (aka org tengah) ingin menjual kepada penjual di pasar, mereka agaknya ingin menjual yang manis atau yang tawar?"
Isteri: "Mesti yang manis"
Si suami diam sejenak...
Kemudian dia menyambung." Ketika pekebun menanam tembikainya, adakah dia mahu tembikai yang tumbuh nanti manis atau tawar?"
Isteri: " Tentu yang manis, pastinya."
Suami:" Ketika awak membelah buah ini tadi, awak inginkan yang manis atau yang tawar?"
Isteri: "Mesti saya ingin yang manis. Kenapa dengan semua soalan ini?" soal isteri.
Orang soleh itu tersenyum pada isterinya.
Lalu dia berkata:
"Ketika semua orang inginkan buah yang manis, sebaliknya pula yang berlaku. Buah tembikai itu tawar rasanya!"
Isteri orang soleh itu terdiam.
Marahkan siapa?
"Jadi ketika awak marah tentang rasa tembikai yang tawar, awak sebenarnya marahkan siapa? Bukankah semua orang inginkan buah yang manis. Tetapi kuasa Allah memutuskan buah itu tawar rasanya, Jadi awak marahkan siapa? Marahkan saya yg membeli, atau penjual yang menjual atau awak yang membelah atau pekebun yg menanam? Atau Allah yang menentukan rasa tawar?"
Adab ketika makan: Janganlah kita mengecam, mengutuk makanan walaupun makanan itu tidak sedap. Kalau kita tak suka, kita tinggalkan sahaja.
Pengajarannya: Kita perlu faham bahawa rezeki kita dapat yang manis atau tawar, sedap atau tidak, semuanya ditentukan Allah. Jika kita mengecamnya, ramai orang akan terasa hati. Mungkin emak atau isteri yang memasak terasa hati, atau mungkin ayah yang membeli terasa hati. Dan lebih-lebih lagi tanpa kita sedar, kita seolah-olah "mengecam" Allah yg mengurniakan rezeki itu kepada kita. Jika kita tidak bersyukur dengan yang sedikit, mana mungkin kita akan bersyukur dengan yang banyak.
NotakakiHD: Semoga memberi manfaat kepada kita bersama
Hi There!
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
~Lihatlah sekitar alam..
Dunia luas terbentang..~
Hi There!
Hi Uolssss....
Holla! Lama sungguh tidak menjenguk blog sendiri kan...
Bersawang yang sarat sangat-sangat dah ni... dan tidak mudah untuk dihapuskan lagi.. LOL
Well, no new update... just post suka-suka to say hi pada mana yang masih singgah di sini.. hihihiii... Jangan maaarahhhhhh
NotakakiHD : Lavvv u ols.. Muaaahhhhhhh
~Lihatlah sekitar alam..
Dunia luas terbentang..~
Hi There!
Hi Uolssss....
Holla! Lama sungguh tidak menjenguk blog sendiri kan...
Bersawang yang sarat sangat-sangat dah ni... dan tidak mudah untuk dihapuskan lagi.. LOL
Well, no new update... just post suka-suka to say hi pada mana yang masih singgah di sini.. hihihiii... Jangan maaarahhhhhh
NotakakiHD : Lavvv u ols.. Muaaahhhhhhh
Subscribe to:
Posts (Atom)
Cerpen : Kasih Kita
“Aku tak tau la Shim.. aku keliru dengan perasaanku… Sana aku sayang.. yang sini aku rindu…. Aku buntu..” sambil mengeluh Izat mera...
-
Assalam.. lama tak jenguk dan update blog ini kan so sebagai upacara pecah tanah di tengah tahun ini, saya nak share sebuah kisah yang mu...
-
~Lihatlah sekitar alam.. Dunia luas terbentang..~ Entry tertunda : Date jalan-jalan itik ayam : 22-31 Mar 2019 Yuhuuu... dah updat...
-
“Aku tak tau la Shim.. aku keliru dengan perasaanku… Sana aku sayang.. yang sini aku rindu…. Aku buntu..” sambil mengeluh Izat mera...

